Aceh Tamiang| Wartapoldasu.com – Perumda Air Minum Tirta Tamiang kini berada di titik nadir. Bencana hidrometeorologi hebat yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu tidak hanya meninggalkan lumpur, tetapi juga melumpuhkan seluruh urat nadi pelayanan air bersih di Bumi Muda Sedia.
Di tengah kondisi perusahaan yang “mati suri” dengan pendapatan nol rupiah, sosok Juanda, S.IP hadir memegang kemudi.
Dilantik pada 12 Februari 2026 oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, Juanda mewarisi beban berat: memulihkan hak dasar 29.572 sambungan rumah (SR) di saat kas perusahaan kosong dan infrastruktur hancur lebat.
Pasca penetapan Status Tanggap Darurat yang diperpanjang hingga 24 Februari 2026 (Keputusan Bupati No. 100.3.3.2/211/2026), delapan unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda praktis tidak beroperasi normal.
Kondisi keuangan perusahaan mencapai titik kritis. Tanpa adanya tagihan kepada pelanggan selama masa bencana, pendapatan perusahaan menyentuh angka nol. Padahal, biaya operasional Desember 2025 hingga Januari 2026 telah menguras habis sisa kas. Imbasnya, gaji karyawan bulan Februari terancam tak terbayar, begitu pula dengan kewajiban Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah di depan mata.
“Kondisinya sangat menantang. Kita kehilangan sumber pendapatan, sementara kerusakan di lapangan sangat masif akibat alat berat proyek rehabilitasi lingkungan yang justru merusak jalur pipa kita,” ujar Juanda saat ditemui di Karang Baru, Rabu (4/3/2026).
Derap Langkah Cepat: Membentuk Tim Khusus Tak ingin menyerah pada keadaan, Juanda langsung melakukan akselerasi. Langkah pertamanya adalah membentuk dua tim strategis: Tim Percepatan Pemulihan Infrastruktur Jaringan Perpipaan serta Tim Pendampingan Pelaksanaan Pekerjaan Pascabencana. ”Tim ini adalah garda terdepan.
Tugasnya memastikan perbaikan jaringan berjalan terstruktur dan efektif. Kita tidak bisa bekerja biasa-biasa saja di situasi yang luar biasa ini,” tegas Juanda.
Fokus utama saat ini adalah memastikan bantuan rehabilitasi dari Kementerian PU pada IPA Karang Baru, Kuala Simpang, Rantau, dan Babo dapat segera difungsikan secara maksimal.
Juanda juga turun langsung memantau operasional IPA Babo guna memastikan warga Kecamatan Bandar Pusaka segera mendapatkan akses air layak konsumsi.
Membuka Kran Kolaborasi: Dari Pusat hingga NGO. Sadar bahwa anggaran daerah memiliki keterbatasan, Juanda yang dikenal memiliki jiwa relawan ini mulai bergerak lincah menjalin komunikasi dengan lembaga non-pemerintah (NGO) dan pihak swasta.
Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi dukungan teknis maupun pendanaan. Selain itu, ia telah melayangkan permohonan krusial kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk menyentuh titik-titik yang belum ter-cover bantuan pusat, meliputi:
Rekonstruksi Intake: Unit Seruway, Semadam, dan Sungai Iyu. Relokasi Jaringan: JDU Unit Sungai Iyu. Logistik Operasional: Pengadaan mobil tangki, penggantian water meter yang hilang, hingga stok bahan kimia (tawas dan kaporit) untuk enam bulan ke depan.
Di hadapan para karyawan dan pelanggan, Juanda menitipkan pesan optimisme meski badai belum sepenuhnya berlalu. Ia berkomitmen tetap memperjuangkan hak-hak karyawan dan meminta pelanggan untuk bersabar. “Selama ada kepercayaan masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak—baik Pemerintah Pusat melalui Kementerian PU, Pemerintah Daerah, hingga lembaga donor—kami akan terus berjuang. Tujuan kami satu: memastikan setiap tetes air bersih kembali sampai ke rumah warga Aceh Tamiang,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Kini, langkah kaki Juanda dan tim Tirta Tamiang menjadi tumpuan bagi lebih dari 147.000 jiwa warga Aceh Tamiang untuk kembali menikmati air bersih, sebuah perjuangan panjang melawan dampak bencana demi kemanusiaan.(Chan)
- Editor : N gulo
