Belawan| WartaPoldasu.com – Mediasi terkait sengketa lahan antara PT Belawan Indah (BI) dan PT Sarana Baja Perkasa (SBP) yang berlangsung di Jalan Pelabuhan Raya, Kelurahan Belawan II, Kecamatan Medan Belawan, berjalan lancar dan kondusif, Kamis (18/6/2026).
Proses mediasi difasilitasi oleh unsur Muspika Plus yang terdiri dari Camat Medan Belawan, Danramil 09/MB, Kapolsek Medan Belawan, serta perwakilan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkim) Kota Medan.
Meski sempat terjadi perdebatan antara kedua belah pihak, seluruh rangkaian mediasi berlangsung dalam suasana aman dan terkendali.
Menanggapi pemberitaan yang beredar di salah satu media online terkait dugaan keterlibatan organisasi masyarakat (Ormas) dan organisasi kepemudaan (OKP) dalam insiden sengketa lahan tersebut, Tokoh Pemuda Belawan, Rudi Simorangkir atau yang akrab disapa Opung, menyampaikan keprihatinannya.
Menurut Opung, pemberitaan yang menyebut Ormas dan OKP sebagai pihak yang terlibat dalam keributan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Jangan menggiring opini dan membangun narasi yang dapat memicu kecemasan di tengah masyarakat Belawan. Jangan pula membenturkan Ormas dan OKP dengan persoalan sengketa lahan yang terjadi antara PT BI dan PT SBP karena hal ini sangat sensitif,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Belawan selama ini telah berupaya menjaga kondusivitas wilayah dari berbagai konflik sosial yang pernah terjadi.
“Masyarakat Belawan sudah lelah menghadapi berbagai konflik. Jika memang ada oknum yang terlibat, sebutkan oknumnya, jangan menyeret nama organisasi secara umum. Itu tidak etis dan dapat memecah belah masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Anak Belawan Bersatu (ABB), Dedy Satria Ainal, AMD, juga meminta agar Ormas dan OKP tidak dijadikan objek pemberitaan yang dapat menimbulkan stigma negatif.
Menurut Dedy, apabila benar terjadi peristiwa penyerangan terhadap pekerja yang mengakibatkan puluhan korban luka dan dugaan penculikan sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan, maka seharusnya terdapat laporan resmi kepada pihak kepolisian.
“Jika memang benar terjadi penyerangan yang menyebabkan puluhan pekerja terluka dan ada korban penculikan, tentu itu merupakan kasus serius yang semestinya dilaporkan secara resmi kepada aparat penegak hukum,” ujarnya.
Dedy juga menegaskan bahwa berbagai pihak, mulai dari perusahaan, pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga aparat keamanan telah melakukan verifikasi terhadap peristiwa tersebut dan berupaya mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak.
Sementara itu, Supriadi alias Kiboy, mandor proyek yang dipercaya oleh PT SBP, dalam wawancara pada 11 Juni 2026 membantah sejumlah informasi yang beredar di media online.
Menurutnya, memang terjadi keributan terkait sengketa lahan, namun tidak benar adanya informasi mengenai penculikan, penyerangan yang menyebabkan puluhan pekerja luka-luka, maupun keterlibatan Ormas dan OKP sebagaimana diberitakan.
“Memang ada keributan, tetapi tidak ada penculikan, tidak ada penyerangan yang menyebabkan 50 pekerja luka-luka, dan tidak ada keterlibatan Ormas maupun OKP seperti yang diberitakan,” tegas Supriadi.
Keterangan serupa juga disampaikan oleh Bhabinkamtibmas Polsek Belawan, Aipda Lumbangaol.
Saat dikonfirmasi, ia menyatakan tidak menemukan adanya senjata tajam maupun keterlibatan Ormas dan OKP dalam peristiwa tersebut.
“Yang terjadi hanya adu mulut di lokasi dan situasi dapat segera kami kendalikan. Tidak ditemukan senjata tajam maupun hal-hal lain seperti yang diberitakan,” ujarnya.
Dengan berlangsungnya mediasi yang kondusif, diharapkan kedua perusahaan dapat menyelesaikan persoalan sengketa lahan melalui jalur musyawarah dan hukum yang berlaku, serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Belawan tetap aman dan kondusif.(Hendrik)
- Editor : N gulo
