Medan| Wartapoldasu.com – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Cetiya Bao Gong yang berlokasi di Jalan Manggis Indah No. 58, Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor, menggelar Hungry Ghost Festival/Ulambana pada Selasa (1/9/2026) mulai pukul 18.00 WIB.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PTITD.SI 67 dan Martrisia Komda Sumut, Budi Malem, S.Mt., bersama sejumlah anggota dan tim media. Turut hadir Ketua S5, Johan Sipit, yang disambut hangat oleh pengurus TITD Cetiya Bao Gong.
Pengurus Cetiya Bao Gong menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Ketua PTITD.SI 67 dan Martrisia Komda Sumut, Ketua S5, serta jajaran media yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Suhu Bie Loan mengatakan, kehadiran para tamu merupakan suatu penghormatan bagi keluarga besar Cetiya Bao Gong. Ia berharap ke depan pihaknya dapat terus memperoleh bimbingan dan arahan demi perkembangan Cetiya Bao Gong.
“Kehadiran Bapak Ketua PTITD.SI 67 dan Martrisia Komda Sumut, Ketua S5 serta jajaran media merupakan penghormatan besar bagi kami. Kami berharap terus mendapatkan bimbingan dan arahan untuk perkembangan Cetiya Bao Gong ke depan,” ungkap Suhu Bie Loan.
Ia menjelaskan, Pho Toh Kong, yang juga dikenal dengan sebutan Por Tor, Chit Gwee Pua atau Festival Hantu Lapar, serta Ulambana, merupakan tradisi yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan pelimpahan jasa yang umumnya dilaksanakan pada bulan ketujuh kalender Imlek atau Cit Gwee.
Meski sering dilaksanakan dalam periode yang sama, menurutnya, Pho Toh Kong dan Ulambana memiliki akar tradisi yang berbeda. Pho Toh Kong lebih berkaitan dengan tradisi budaya rakyat dan Taoisme, sementara Ulambana berasal dari ajaran Buddhisme Mahayana.
Dalam tradisi Pho Toh Kong atau sembahyang Cioko, terdapat kepercayaan bahwa pada bulan ketujuh Imlek, alam arwah terbuka dan para arwah, termasuk arwah yang tidak memiliki keluarga atau tidak terurus, dipercaya turun untuk mencari makanan.
Sementara itu, tradisi Ulambana berakar dari kisah Maudgalyayana atau Mogallana, salah satu murid utama Buddha Gautama, yang berupaya menolong ibunya yang mengalami penderitaan di alam kelaparan.
Tradisi tersebut kemudian dikaitkan dengan pelimpahan jasa melalui perbuatan baik dan persembahan kepada Sangha.
“Inti dari Ulambana adalah bentuk bakti kepada orang tua dan leluhur melalui perbuatan baik serta pelimpahan jasa,” jelas Suhu Bie Loan.
Selain ritual keagamaan dan budaya, kegiatan Hungry Ghost Festival/Ulambana di Cetiya Bao Gong juga diisi dengan bakti sosial berupa pembagian paket sembako kepada masyarakat kurang mampu.
“Kegiatan ini juga kami isi dengan sedikit berbagi paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Suhu Bie Loan saat diwawancarai Mitra Poldasu News di lokasi.
Ketua PTITD.SI 67 dan Martrisia Komda Sumut, Budi Malem, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan pengurus Cetiya Bao Gong tersebut.
Menurut Budi, kegiatan seperti ini memiliki nilai positif, tidak hanya dalam menjaga tradisi dan budaya Tionghoa, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial terhadap masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat baik dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi anggota PTITD.SI 67 dan Martrisia untuk bersama-sama melestarikan budaya Tionghoa sekaligus meningkatkan kepedulian sosial,” kata Budi.
Budi menjelaskan, peringatan bulan ketujuh dalam tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk memberikan persembahan dan doa agar para arwah memperoleh ketenangan serta mendoakan keselamatan bagi masyarakat yang masih hidup.
Dalam rangkaian ritual, berbagai kertas sembahyang berupa replika uang emas, perak, pakaian dan barang-barang lainnya digunakan sebagai simbol persembahan bagi para arwah.
“Berbagai persembahan yang dilakukan merupakan bagian dari tradisi dan simbol pelimpahan jasa kebajikan kepada para arwah, baik mereka yang meninggal secara wajar maupun tidak wajar, serta kepada seluruh leluhur yang telah meninggal dunia. Harapannya, jasa kebajikan tersebut dapat diterima dan membawa kebaikan bagi semua,” ungkap Budi.
Pantauan wartawan Mitra Poldasu News di lokasi, kegiatan berlangsung ramai dan dihadiri sejumlah tamu undangan. Para peserta mengikuti rangkaian ritual sembahyang hingga dilanjutkan dengan perjamuan makan malam bersama.
Di penghujung kegiatan, pengurus Cetiya Bao Gong bersama jajaran PTITD.SI 67 dan Martrisia serta S5 mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan. (Red)
- Editor : N gulo
