Medan| Wartapoldasu.com – Pagelaran seni budaya Buddhis berupa wayang boneka yang berkolaborasi dengan wayang Jawa di Klenteng Kong Teng Cun Ong, Jalan Brigjen Hamid No. 5, Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, berlangsung meriah, aman dan sukses.
Kegiatan yang digelar selama lima hari, mulai 28 September hingga 2 Oktober 2026 tersebut, menampilkan seni budaya Tionghoa berupa wayang boneka yang dikenal dengan sebutan Teo Chew Pan.
Pertunjukan tersebut juga dikolaborasikan dengan unsur budaya pewayangan Jawa sehingga menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat.
Pengurus Klenteng Kong Teng Cun Ong, Suratno, didampingi Ahok, mengatakan pihaknya merasa puas dan bangga karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik hingga acara penutupan.
“Kami sangat puas dan bangga karena selama kegiatan berlangsung semuanya berjalan sukses, aman dan terkendali,” ujar Suratno kepada wartawan di akhir acara pagelaran wayang boneka.
Menurut Suratno, keberhasilan kegiatan tersebut menjadi motivasi bagi pihaknya untuk kembali menghadirkan pertunjukan seni budaya pada tahun mendatang.
“Untuk tahun depan, kami merencanakan akan melaksanakan wayang manusia,” katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengingatkan kembali masyarakat Tionghoa, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Tionghoa agar tidak hilang ditelan zaman.
“Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat Tionghoa tentang budaya Tionghoa, terutama bagi kaum muda, agar kebudayaan tersebut tidak punah. Apalagi kali ini dikolaborasikan dengan wayang Jawa,” jelasnya.
Kolaborasi dua kebudayaan tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam pagelaran. Tokoh Sun Go Kong yang dikenal dalam kisah budaya Tionghoa dipertemukan dengan Hanoman dari tradisi pewayangan Jawa.
Perpaduan tersebut menghadirkan warna tersendiri dalam pertunjukan seni budaya Buddhis sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat dikemas menjadi sebuah pertunjukan yang menarik dan dapat dinikmati berbagai kalangan.
Atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan, Suratno juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran kepolisian yang telah memberikan pengamanan selama acara berlangsung.
“Kami dari pengurus Klenteng Kong Teng Cun Ong menyampaikan banyak terima kasih kepada Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Polisi Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., serta Kapolsek Deli Tua yang telah menurunkan personelnya untuk melakukan pengamanan selama kegiatan,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Permabudhi Sumatera Utara, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B., yang juga Ketua DPRD Kota Medan, Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara Sukasdi, S.E., M.A., serta Ketua Tridharma Komda Sumut Budi Malem Smt, yang juga Wakil Ketua Permabudhi Sumut.
Menurut Suratno, dukungan dan keterlibatan berbagai pihak tersebut turut membantu sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memprakarsai dan membantu mempersiapkan kegiatan ini sehingga dapat berjalan sukses,” katanya.
Apresiasi turut disampaikan kepada Prof. Dr. dr. Delyuzar, Ketua FPK Kota Medan, serta Prof. Dr. H. Abdi Yanto, S.E., M.Si., tokoh Jawa Sumatera Utara, yang turut hadir dan memeriahkan pagelaran wayang boneka tersebut.
Tak lupa, Suratno juga menyampaikan terima kasih kepada H. Benny Soebarjo, S.H., yang dipercaya sebagai pembawa acara (MC) dan turut membuat suasana pagelaran semakin semarak.
“Terima kasih juga kepada seluruh tim wayang kulit yang telah menunjukkan kebolehannya di Kota Medan. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk melestarikan budaya,” ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, Suratno yang didampingi Ahok menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan terdapat kekurangan, baik dalam penyambutan maupun pelayanan kepada para tamu dan masyarakat.
“Kami mohon maaf apabila selama kegiatan berlangsung terdapat kesalahan atau hal-hal yang kurang berkenan,” pungkas Suratno.
- Editor : N gulo
