Medan| Wartapoldasu.com – Festival Seni Budaya Buddhis digelar di Klenteng Kong Tek Cun Ong, Jalan B. Zein Hamid No. 5, Kelurahan Kedai Durian, Kota Medan, Senin (28/9/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya yang memadukan unsur budaya Tionghoa dan Jawa.
Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah penampilan tokoh Kera Tionghoa, Sun Go Kong, yang dipadukan dengan tokoh Kera Jawa, Hanoman.
Pertunjukan Hanoman ditampilkan dalam bentuk petilan lakon “Hanoman Duta” oleh salah satu sanggar tari Paguyuban Jogja di Medan yang dipimpin Letkol (Purn.) Warsono.
Dalam kesempatan tersebut, sanggar turut menyumbangkan penampilan seni budaya sebagai bagian dari rangkaian festival.
Kolaborasi kedua budaya tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Tokoh Sun Go Kong yang dikenal dalam budaya Tionghoa dipertemukan dengan Hanoman dari tradisi pewayangan Jawa, sehingga menghadirkan warna baru dalam pertunjukan seni budaya Buddhis.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B., Ketua DPRD Kota Medan sekaligus Ketua Permabudhi Sumatera Utara, Budi Malem, SMT., Sebagai Ketua Tridharma Komda Sumut., Prof. Dr. H. Abdi Yanto, S.E., M.Si., tokoh Jawa Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Delyuzar, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Medan, Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara Sukasdi, S.E., M.A., Ko William, Johan, S.H., dari pimpinan Wartapoldasu sekaligus Ketua Yayasan Cetiya Tissa, serta para undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. dr. Delyuzar, Ketua FPK Kota Medan, menyampaikan apresiasi terhadap festival yang dinilai menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat melalui seni dan budaya.
“Walaupun kita berbeda, tetapi kita tetap kompak. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk kita bersama-sama membangun kebersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seni budaya seperti ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat dari berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan.
Sementara itu, Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara, Sukasdi, S.E., M.A., memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan Festival Seni Budaya Buddhis tersebut.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan seni dan budaya memiliki nilai penting dalam membangun kebersamaan serta memperkenalkan keberagaman budaya kepada masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya festival seni budaya Buddhis ini.

Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya sekaligus memperkuat kerukunan dan kebersamaan,” ujar Sukasdi.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Medan yang juga Ketua Permabudhi Sumatera Utara, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B., melalui Wakil Ketua Permabudhi Sumut Budi Malem, SMT., menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada panitia, para seniman, sanggar, tokoh masyarakat, tokoh agama serta seluruh undangan yang telah hadir dan ikut menyukseskan festival ini.
Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi wadah untuk mempererat persatuan melalui seni dan budaya,” ujar Budi Malem mewakili Wong Chun Sen Tarigan.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan seni budaya sebagai jembatan untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Hal senada disampaikan Prof. Dr. H. Abdi Yanto, S.E., M.Si., dari tokoh Jawa Sumatera Utara. Ia membawa semangat persatuan melalui slogan “Melalui budaya kita bersatu.”
Slogan tersebut dinilai sejalan dengan semangat festival yang mempertemukan berbagai unsur budaya dalam satu panggung pertunjukan.
Suasana festival semakin semarak dengan penampilan MC kondang Kota Medan, H. Benny Soebarjo, S.H., yang diketahui kelahiran Kota Pelajar Yogyakarta.
Kehadirannya turut memberikan warna tersendiri dalam memandu jalannya Festival ini juga menjadi momentum menarik karena menghadirkan kolaborasi karakter budaya Tionghoa dan Jawa melalui penampilan Sun Go Kong dan Hanoman.
Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi ruang bersama untuk memperkenalkan keberagaman sekaligus membangun persaudaraan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan mendapat perhatian positif dari para tamu undangan maupun masyarakat yang hadir.
Festival Seni Budaya Buddhis di Klenteng Kong Tek Cun Ong diharapkan dapat terus menjadi wadah pelestarian seni budaya sekaligus memperkuat semangat persatuan dan kerukunan di Kota Medan. (Red)
- Editor : N gulo
