Medan Labuhan| Wartapoldasu.com – Antusiasme umat Buddha terlihat begitu tinggi dalam merayakan hari ulang tahun Dewa Lim Thai Se dan Lim Bie Guan yang berlangsung di Cetiya Long Shan Than, Jalan Yos Sudarso, Lingkungan III, Gang Pulau Bangka No. 13–14 B, Medan Labuhan.
Perayaan yang berlangsung selama enam hari berturut-turut, mulai 2 hingga 7 November 2026 tersebut, mendapat sambutan hangat dari umat maupun tamu undangan yang datang untuk melaksanakan sembahyang dan mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan.
Menariknya, setiap tamu undangan maupun umat yang hadir untuk bersembahyang turut dilayani dengan penyediaan makanan ringan (snack), makanan dan minuman sebagai bentuk kebersamaan serta penghormatan kepada para pengunjung.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tridharma Komda Sumatera Utara yang diwakili Bendahara, Setiawati Isah, bersama pengurus Cetiya NIVASA, Yen Valensia, menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Dewa Lim Thai Se.
Mereka berharap melalui perayaan tersebut, seluruh umat senantiasa memperoleh berkah, kesehatan, kedamaian serta rezeki yang berlimpah.
Budi menyampaikan bahwa kegiatan perayaan ini bukan sekadar kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Tionghoa sekaligus memperkenalkan dan mengingatkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
Ia juga mengimbau seluruh umat agar senantiasa menghargai perbedaan, menjaga toleransi, mempererat kerukunan serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dalam bingkai kebhinekaan Nusantara.
“Tridharma merupakan tempat untuk belajar tentang toleransi dan harmonisasi, menjaga kerukunan dan kedamaian, serta merawat etika, sila dan budaya,” ujar Budi.
Kehadiran tim Tridharma Komda Sumatera Utara tersebut disambut baik oleh pengurus Cetiya Long Shan Than, Bung Hui.
Dalam keterangannya, Bung Hui menjelaskan bahwa Dewa Lim Bie Guan, yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai Lin Bigan atau Bi Gan, merupakan tokoh sejarah legendaris dari akhir Dinasti Shang yang hingga kini dihormati dan dipuja sebagai salah satu Dewa Rezeki atau Wen Cai Shen (Dewa Harta Sipil).
Selain dihormati sebagai dewa, Bi Gan juga dikenal sebagai leluhur agung dari marga Lin atau Lim dalam dialek Hokkien.
Bung Hui menjelaskan, berdasarkan kisah tradisi yang berkembang, Lim Bie Guan hidup sekitar abad ke-11 sebelum Masehi pada masa Dinasti Shang. Ia merupakan seorang pangeran, putra Raja Wen Ding, sekaligus paman dari Raja Zhou atau Di Xin, raja terakhir Dinasti Shang.
Karena kecerdasan, keberanian dan integritasnya, Lim Bie Guan dipercaya menjabat sebagai perdana menteri untuk membantu menjalankan pemerintahan.
Dalam kisah legendanya, Lim Bie Guan mengalami akhir kehidupan tragis setelah jantungnya dikeluarkan atas perintah Raja Zhou.
Namun, kisah tersebut kemudian memiliki makna simbolis dalam kepercayaan masyarakat. Ia dipandang sebagai sosok yang tidak memiliki hati dalam arti tidak serakah, tidak memihak dan tidak pilih kasih.
Oleh karena itu, masyarakat meyakini Lim Bie Guan sebagai simbol keadilan dalam membagikan rezeki dan kemakmuran. Rezeki dipercaya diberikan secara adil berdasarkan kebajikan dan perbuatan baik masing-masing orang.
Dalam altar kelenteng maupun lukisan keagamaan, Dewa Lim Bie Guan umumnya digambarkan mengenakan jubah kebesaran pejabat Dinasti Shang, berwajah bijaksana, memegang prasasti atau Ruyi (tongkat giok lambang keberuntungan), serta membawa sebongkah emas sebagai simbol kemakmuran.
Lebih lanjut, Bung Hui menjelaskan bahwa dalam rangkaian perayaan tersebut juga dilaksanakan ritual mengundang dewa sebagai bagian dari tradisi untuk memeriahkan perayaan ulang tahun Dewa Lim Thai Se dan Lim Bie Guan.
Selain itu, dilakukan pula pembakaran kapal tongkang yang menjadi simbol persembahan dan penghormatan kepada leluhur yang telah diangkat menjadi dewa.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi dan bentuk penghormatan kepada para leluhur. Kami berharap melalui perayaan ini, kebersamaan, kerukunan dan nilai-nilai budaya tetap terjaga,” ujar Bung Hui mengakhiri keterangannya.
Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat tali persaudaraan antarumat, menjaga kelestarian tradisi leluhur, serta memperkuat semangat toleransi dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
- Editor : N gulo
