Tapanuli Selatan| Wartapoldasu.com – Operasi penindakan tambang emas ilegal di perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal akhirnya membuahkan hasil besar.
Sebanyak 17 orang diamankan dan 14 unit alat berat jenis ekskavator disita dari lokasi penambangan di sekitar aliran Sungai Batang Gadis, kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT).
Penindakan tegas ini dilakukan tim gabungan Satuan Brimob dan Ditreskrimsus Polda Sumut dengan kekuatan lebih dari 200 personel, sejak Senin (2/3/2026) dini hari.
Operasi tersebut menyasar aktivitas tambang emas berskala besar yang diduga telah merusak kawasan hutan dan daerah aliran sungai.
Dari total 14 ekskavator yang diamankan, 12 unit ditemukan langsung beroperasi di titik tambang, sementara dua unit lainnya dicegat saat dalam perjalanan menuju lokasi. Seluruh alat berat kini telah diamankan sebagai barang bukti.
Wakapolda Sumut, Sonny Irawan, yang turun langsung meninjau lokasi tambang ilegal tersebut, menegaskan bahwa 17 orang yang diamankan saat ini masih berstatus saksi.
“Artinya, 17 orang saksi itu akan kami bagi klaster-klasternya, apakah dia sebagai operator, tenaga pekerja, tukang masak, atau sebagai kernet,” jelasnya saat menggelar konferensi pers, Selasa (3/3/2026) siang.
Ia juga menegaskan bahwa penyidikan akan dikembangkan untuk mengungkap aktor utama di balik aktivitas tambang emas ilegal tersebut.
Pihak kepolisian berencana memanggil PT Hexindo Adiperkasa guna menelusuri dugaan keterkaitan kepemilikan atau pengendalian alat berat yang digunakan dalam operasi tambang ilegal berskala besar tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih luas, termasuk kemungkinan adanya pemodal dan pengendali lapangan.
Di sisi lain, dukungan kewilayahan menjadi elemen penting dalam memastikan operasi berjalan aman dan terkendali hingga tahap evakuasi barang bukti.
Kapolres Tapanuli Selatan, Yon Edi Winara, yang turut mendampingi Wakapolda saat pengecekan TKP, menegaskan peran aktif jajarannya dalam mendukung kelancaran operasi.
“Kami dari Polres Tapsel membantu dukungan logistik seadanya, khususnya penyediaan makanan bagi personel di lapangan sejak hari pertama operasi dengan maksud agar seluruh personel tetap dalam kondisi prima selama pelaksanaan tugas,” ujar Yon Edi.
Selain dukungan konsumsi, Polres Tapsel juga menyiapkan skema pengamanan arus lalu lintas saat proses pemindahan alat berat guna mencegah gangguan keamanan maupun kemacetan di jalur distribusi.
Operasi ini menjadi sinyal keras bahwa praktik pertambangan ilegal di kawasan hutan lindung dan aliran sungai tidak akan lagi ditoleransi.
Aparat memastikan penindakan tidak berhenti pada pekerja lapangan, melainkan akan menelusuri hingga ke pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
- Editor : N gulo
