Labuhanbatu| Wartapoldasu.com – Pengerjaan pasangan batu pada proyek Preservasi Jalan Sidomakmur–Sei Penggantungan, tepatnya di Dusun Sei Bunga, Desa Sei Penggantungan, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, menjadi sorotan masyarakat.
Pasalnya, sejumlah bagian pasangan batu pada proyek tersebut dilaporkan mengalami keretakan bahkan hancur, meskipun pengerjaannya disebut-sebut baru berjalan beberapa bulan. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa pekerjaan konstruksi tersebut tidak dikerjakan sesuai standar teknis dan spesifikasi yang tercantum dalam rencana kerja atau bestek.
Diketahui, proyek Preservasi Jalan Sidomakmur–Sei Penggantungan tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp15.135.028.000, bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025–2026, dengan penyedia jasa PT Ayusepta Perdana di wilayah Provinsi Sumatera Utara.
Secara umum, masyarakat mengaku cukup puas terhadap sejumlah pekerjaan fisik maupun standar pengaspalan jalan. Namun, kondisi berbeda justru terlihat pada pengerjaan pasangan batu yang dinilai sangat memprihatinkan.
Mulai dari bagian dasar tanah hingga susunan pasangan batu, sejumlah titik disebut tidak menunjukkan hasil pekerjaan yang baik. Bahkan, kerusakan berupa retakan dan bagian pasangan batu yang hancur terlihat meskipun usia pekerjaan masih relatif baru.
“Pasangannya seperti dikerjakan suka-suka. Banyak yang sudah rusak, padahal pengerjaannya baru hitungan bulan,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Senada dengan itu, salah seorang masyarakat Dusun VIII Sei Bunga, Desa Sei Penggantungan, berinisial H. Pasaribu, turut menyampaikan keluhannya.
Menurutnya, kerusakan pasangan batu tersebut sudah terlihat jelas. Bahkan, sejumlah bagian mengalami retak yang dinilai tidak seharusnya terjadi apabila pekerjaan dilaksanakan sesuai standar teknis.
“Banyak yang rusak, bahkan yang retak pun jelas kelihatan. Seakan-akan pihak pemborong tidak takut dengan risiko hasil pekerjaannya,” ungkap H. Pasaribu.
Menindaklanjuti informasi masyarakat, awak media WartaPoldasu.com kemudian menghubungi Halim, warga Medan, yang disebut sebagai mandor lapangan atau pihak yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut.
Saat dikonfirmasi mengenai kondisi pasangan batu yang rusak, Halim memberikan tanggapan melalui pesan singkat.
“Siap, terima kasih informasinya, Bang. Apa belum ada yang mulai kerja? Karena sudah saya suruh anggota kerja di sana. Karena banjir alasannya. Kalau sudah selesai banjir, akan kita kerjakan,” jawab Halim.
Namun, berdasarkan keterangan sejumlah tokoh masyarakat setempat, kerusakan pasangan batu tersebut disebut sudah terjadi sebelum hujan turun. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan masyarakat mengenai kualitas pengerjaan dan pengawasan proyek tersebut.
Masyarakat berharap pihak pelaksana maupun penyedia jasa tidak hanya melakukan perbaikan setelah mendapat sorotan, tetapi juga memastikan seluruh pekerjaan memenuhi spesifikasi teknis dan standar mutu konstruksi yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Warga juga meminta Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, serta instansi teknis terkait agar turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kondisi pekerjaan di lapangan.
Jika ditemukan ketidaksesuaian dengan spesifikasi teknis, masyarakat berharap pihak terkait memberikan teguran dan mengambil langkah sesuai ketentuan terhadap penyedia jasa maupun pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih menunggu tindakan nyata dari pihak pelaksana dan instansi berwenang agar kerusakan tersebut segera ditangani dan kualitas pembangunan infrastruktur benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
- Editor : N gulo
