Medan| Wartapoldasu.com – Kelangkaan semen yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera Utara selama sekitar dua bulan terakhir mulai mengganggu sektor jasa konstruksi dan dikhawatirkan berdampak terhadap pelaksanaan proyek pembangunan pemerintah maupun swasta.
Selain sulit diperoleh, harga semen berbagai merek juga mengalami lonjakan tajam. Dari harga normal sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per sak, kini di sejumlah daerah mencapai Rp85 ribu per sak.
Kondisi tersebut memicu desakan agar pemerintah bersama Aparat Penegak Hukum (APH) segera mengusut dugaan adanya permainan dalam distribusi semen.
Seorang pemborong rumah di Kota Medan, Syawal Harahap, mengaku kesulitan memperoleh semen di pasaran. Kalaupun tersedia, harganya dinilai sudah jauh di atas harga normal.
“Sudah sekitar dua bulan kami sangat kesulitan mendapatkan semen. Kalau pun ada, harganya sudah mencapai Rp85 ribu per sak, baik Semen Padang, Tiga Roda maupun merek lainnya. Padahal sebelumnya masih berkisar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu,” ujar Syawal kepada wartawan di Medan, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, kelangkaan tersebut telah menghambat sejumlah proyek pembangunan rumah yang sedang dikerjakannya. Akibatnya, biaya konstruksi meningkat sementara penyelesaian pekerjaan terancam tidak sesuai target.
Syawal mendesak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera menelusuri penyebab terganggunya distribusi semen. Ia juga meminta asosiasi kontraktor turut mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi agar pasokan kembali normal.
Lebih lanjut, ia meminta APH menyelidiki dugaan praktik penimbunan semen oleh oknum yang diduga memanfaatkan situasi kelangkaan untuk meraup keuntungan.
“Kalau memang ada penimbunan, harus segera diusut. Jangan sampai masyarakat dan pelaku usaha terus menjadi korban akibat permainan oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Kelangkaan semen tidak hanya terjadi di Kota Medan. Di Kota Tanjungbalai, pasokan dari distributor dilaporkan menurun hingga sekitar 50 persen selama dua pekan terakhir. Semen Merah Putih dan Tiga Roda menjadi merek yang paling sulit diperoleh.
Harga Semen Merah Putih di wilayah tersebut berkisar antara Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per sak, sedangkan Semen Tiga Roda mencapai sekitar Rp66 ribu per sak dan di beberapa toko bahkan menembus Rp80 ribu.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Medan Utara. Sejumlah panglong mengaku pasokan Semen Andalas, Semen Padang, dan Semen Tiga Roda terus berkurang. Sementara Semen Merah Putih masih tersedia, namun dalam jumlah terbatas.
Di Kabupaten Langkat, pedagang juga mengeluhkan stok dari distributor yang terus menipis sehingga harga ikut meningkat.
Berdasarkan laporan dari sejumlah daerah, empat merek yang paling banyak mengalami kelangkaan yakni Semen Merah Putih, Semen Tiga Roda, Semen Andalas, dan Semen Padang.
Ketua Umum DPD Asosiasi Kontraktor Nasional (ASKONAS) Sumatera Utara, Rikson Sibuea, menilai kelangkaan tersebut patut diduga terjadi akibat persoalan distribusi.
“Material konstruksi lainnya tidak mengalami gangguan. Karena itu kami menduga ada persoalan dalam distribusi semen yang perlu segera ditelusuri,” ujar Rikson.
Ia juga menilai pemerintah dan APH belum menunjukkan pengawasan yang maksimal terhadap tata niaga semen.
“Sudahlah mendapatkan pekerjaan sulit, jumlah proyek sedikit, sekarang kontraktor kembali dihadapkan dengan kelangkaan semen,” katanya.
Menurut Rikson, pihak yang paling terdampak adalah para kontraktor. Apabila proyek terlambat selesai akibat sulitnya memperoleh semen, kontraktor tetap menanggung berbagai risiko, mulai dari denda keterlambatan, tuntutan ganti rugi (TGR), hingga persoalan hukum.
“Proyek sedikit, memperolehnya sulit, semen pun menjepit,” ujarnya.
Rikson menambahkan, pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih kepada pelaku jasa konstruksi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi yang mengatur pembinaan dan kemitraan antara pemerintah dengan pelaku usaha jasa konstruksi.
Ia mendesak pemerintah segera memperbaiki tata niaga dan distribusi semen di Sumatera Utara agar pasokan kembali normal sehingga tidak menghambat program pembangunan.
“Kami meminta pemerintah segera memastikan ketersediaan semen di Sumatera Utara agar seluruh program pembangunan dapat berjalan sesuai target,” pungkasnya. (Rikson Sibuea)
- Editor ; N gulo
