Madina| Wartapoldasu.com – Tiga nyawa melayang setelah tebing runtuh dan menimbun mesin dompeng di bantaran Sungai Batang Gadis, Desa Sipapaga, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kamis sore (17/9/2026).
Tragedi tersebut kembali menyoroti persoalan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang selama ini menjadi perhatian publik di Kabupaten Mandailing Natal.
Ironisnya, lokasi kejadian disebut berada tidak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal, termasuk kawasan sekitar Kantor Bupati Madina.
Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Madina mengecam keras peristiwa tersebut. Organisasi mahasiswa itu meminta Bupati Mandailing Natal bersama aparat penegak hukum (APH) segera mengambil langkah konkret dan tidak membiarkan persoalan PETI berlarut-larut.
Ketua DEMA STAIN Madina, Adam Ali, menegaskan bahwa kematian tiga korban tidak boleh berhenti dipandang sebagai musibah semata.
Bupati Madina jangan tutup mata. Tiga nyawa telah melayang. Ini bukan waktunya pemerintah hanya hadir memberikan ucapan belasungkawa.
Pemerintah harus menjawab: di mana pengawasan, di mana penertiban, dan sejauh mana Satgas PETI benar-benar bekerja?”»
Menurut Adam, kedekatan lokasi kejadian dengan pusat pemerintahan menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pengawasan di lapangan.
Kalau aktivitas yang diduga PETI bisa berlangsung di kawasan yang begitu dekat dengan pusat pemerintahan, lalu apa yang sebenarnya diawasi? Apakah pemerintah tidak mengetahui, tidak melihat, atau memang pengawasannya yang harus dievaluasi.
DEMA STAIN Madina juga mempertanyakan efektivitas Satgas PETI yang selama ini diharapkan menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menangani aktivitas pertambangan tanpa izin.
Adam meminta pemerintah membuka evaluasi secara transparan terhadap kinerja tim tersebut.
“Kami pertanyakan secara terbuka: Satgas PETI ini sebenarnya bekerja untuk apa? Apakah pemberantasan PETI benar-benar menjadi tugas utama, atau hanya sebatas pembentukan struktur dan operasi sesaat, kemudian aktivitas kembali muncul.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan penertiban bukan sekadar adanya operasi atau kegiatan seremonial, melainkan perubahan nyata di lapangan.
“Jangan hanya sibuk ketika kamera menyala. Publik membutuhkan hasil. Kalau aktivitas yang diduga ilegal masih muncul dan bahkan menelan korban, efektivitas pola penertiban harus dipertanyakan dan dievaluasi secara terbuka.
DEMA STAIN Madina mendesak pemerintah dan APH melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap peristiwa di lokasi kejadian berdasarkan fakta dan bukti yang ditemukan.
Menurut Adam, apabila hasil penyelidikan menemukan adanya pelanggaran hukum, proses penegakan hukum harus dilakukan terhadap pihak-pihak yang memang terbukti terlibat sesuai perannya.
“Jangan hanya menangkap orang yang berada di lokasi kalau memang berdasarkan bukti terdapat pihak lain yang terlibat sebagai pemodal, pemilik peralatan, pengelola, atau pihak lainnya.
Bongkar sampai ke akar berdasarkan bukti. Hukum harus bekerja secara adil dan tidak boleh tebang pilih.
Ia juga meminta pemerintah tidak menjadikan keberadaan Satgas PETI semata-mata sebagai indikator keberhasilan penanganan persoalan tersebut.
“Masyarakat tidak membutuhkan Satgas yang hanya kuat di atas kertas. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata di lapangan. Kalau mekanismenya tidak efektif, evaluasi. Kalau struktur tidak mampu bekerja, lakukan perbaikan.
DEMA STAIN Madina menilai tragedi Sipapaga harus menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Adam mengingatkan bahwa keluarga korban kini harus menanggung kehilangan yang tidak dapat dikembalikan.
Bupati Madina, ini ultimatum kami: jangan tunggu korban berikutnya. Jangan tunggu ada korban keempat, kelima, dan seterusnya baru pemerintah bergerak. Tiga nyawa sudah terlalu mahal untuk dibayar dengan janji penertiban.
DEMA STAIN Madina juga meminta pemerintah memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai langkah konkret yang akan dilakukan setelah tragedi tersebut.
“Kami tidak ingin setelah ini semuanya kembali senyap. Tidak boleh berhenti pada evakuasi, berita duka, dan pernyataan belasung Publik berhak mengetahui apa tindakan pemerintah setelah tiga nyawa melayang.
Adam menegaskan DEMA STAIN Madina akan terus mengawal persoalan PETI di Mandailing Natal secara kritis.
«“Kalau pemerintah serius, buktikan. Kalau Satgas PETI serius, tunjukkan hasilnya. Kepercayaan publik dibangun dari tindakan nyata.
Ia kembali menyerukan agar pemerintah segera mengambil langkah.
Bupati Madina jangan menunggu tanah kembali runtuh untuk bergerak. Jangan menunggu mesin dompeng kembali menelan korban. Jangan menunggu Sungai Batang Gadis kembali menjadi saksi kematian. Pemerintah harus bertindak sekarang.”»
Menurut DEMA STAIN Madina, tragedi tersebut semestinya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan, pengawasan pemerintah, serta penegakan hukum di wilayah Mandailing Natal.
“Tiga nyawa sudah melayang. Jangan biarkan kematian mereka menjadi sekadar angka dalam laporan. Jadikan tragedi ini sebagai titik balik: PETI harus ditangani secara serius, pengawasan harus diperkuat, dan setiap pihak yang terbukti melanggar hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Tim)
- Editor : N gulo
